Showing posts with label Ngaji. Show all posts
Showing posts with label Ngaji. Show all posts

26 February 2008

Taqwa, Takut dan Kemanusiaan

Mendengar kata agama maka yang kita bayangkan pasti keyakinan akan Tuhan dan semua ajarannya yang harus diikuti, mendengar Tuhan mungkin banyak asosiasi yang ada dalam pikiran kita, ada yang langsung memandang sebagai Yang Maha Kuasa atas segalanya, Yang Maha Melihat, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Baik, dll tergantung prespektif dan kondisi ketika ia membayangkan Tuhan, bahkan ada mungkin yang memandang Tuhan sebagai zat yang menakutkan, mungkin....?, coba saja ketika banyak rezeki, banyak duit, hidup enak, pasti beda dengan ketika ditimpa musibah, sedih, sakit dll, kadang kita memandang Tuhan tidak adil..... ya tho..?,

Ketika di asosiasikan dengan takwa maka yang muncuk kata-kata “takut”, takwa adalah takut kepada Tuhan, shabat saya pernah bertanya :


“kenapa taqwa harus takut ya....? seperti yang sering di ucapkan para da'ie, padahal kita ada karena diciptakan oleh-Nya, tidak seharusnyakan kita memandang Tuhan dengan perasaan takut, bukankah kata “takut” biasanya menjadi semacam warning agar kita menjauh dari apa yang kita takutkan.....?”

Pertanyaan yang agak sulit di jawab, karena saya sendiri sudah biasa mendengar banyak penceramah mengartika takwa adalah takut kepada Tuhan. Kalau menurut Fazlur Rahman (seorang pemikir Islam kelahiran Pakistan), takwa seharusnya di artikan sebagai tunduk dan patuh kepada segala ketentuan yang digariskan-Nya, senada dengan ini A. Yusuf Ali dalam buku Islam Doktrin dan Peradaban karya Nurkholis Majid merumuskan bahwa takwa memuat 4 hal, (1) keimanan kita harus sejati dan murni, (2) siap memancarkan imam dalam bentuk tindakan kemanusiaan, (3) harus menjadi warga negara masyarakat yang baik, yang mendukung sendi-sendi kehidupan kemasyarakatan, (4) memiliku jiwa pribadi yang teguh dan tidak goyah dalam setiap keadaan.

Ketika di sodorkan pemikiran ini sahabat saya kembali bertanya :

“Lho koq rumusannya jadi manusiawi, ya.. kesannya manusia banget, padahal takwakan milik Tuhan...?”

Pertanyaan dari saya :

“Mengapa segala sesuatu tentang agama harus selalu dikaitkan sebagai sesuatu yang transenden...bersifat ketuhanan, padahal bukankah agama di turunkan untuk manusia...? seharusnya titik beratnya manusia dong....!

Kesan-kesan seperti ini sebenarnya sudah tertanam dalam pikiran kita karena doktrin yang kita dengar selama ini yang terus memprofokasi kemudian mengasosiasi dalam pikiran kita bahwa agama adalah untuk Tuhan dan manusia hanya sebagai penganut yang tidak memiliki kepentingan apa-apa......!

Mungkin banyak yang akan protes :

“Ah siapa yang bilang ?, Tuhan nggak butuh apa-apa kitalah yang butuh Tuhan, kita butuh sholat, butuh puasa dll”

Yah sejatinya memang seperti itu..... tapi nyatanya itu seringkali hanya sebatas kesadaran dalam hati, tapi tindakan kita tidak menunjukkan itu, saya sendiri masih terlalu sering menganggap itu semua bukan kebutuhan saya, kalo begitu kebutuhan siapa....?

wallahua'lam

"Jadi apakah agama seharusnya berpusat pada manusia....?”


22 May 2007

Bohong, Sumber segala Kejahatan.....?????

Cerita menarik dari Muhammad SAW, pada masa-masa awal Islam...! Ketika itu beliau didatangi seseorang yang ingin masuk Islam, kemudian setelah yakin dan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai syarat masuk Islam, orang tadi berkata:

“Ya Rosul, judi, zina, mabuk, mencuri, adalah sebagian dari kebiasaan-kebiasaan buruk saya, dan saya sepertinya tidak akan bisa meninggalkan kebiasaan-kebiasaan itu”.

Rosul kemudian menjawab :
“Saya hanya minta satu hal, berjanjilah untuk tidak pernah berbohong....!”.

Permintaan yang sungguh mudah, begitu juga menurut orang tadi, bayangkan, dia tidak disuruh meninggalkan perbuatan-perbuatan buruknya, dia cukup tidak berbohong, ah mudahkan...?. Sehingga tanpa ragu dia menerimanya dengan senang hati..
Kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan, suatu ketika dia akan mencuri, seketika itulah dia teringat akan janjinya,

“Kalau saya mencuri, kemudian Rosul bertanya, saya akan menjawab apa..? kalau saya jawab “Ya”, saya pasti di hukum, kalau saya jawab “Tidak”, berarti saya sudah brbohong.....!”

Akhirnya dia tidak jadi mencuri, selalu begitu setiap kali dia ingin melakukan kebiasaan-kebiasaan buruknya. Sehingga tanpa terasa dia bisa meninggalkan semua kebiasaan buruknya.

Ah.... bohong ternyata sumber segala kejahatan, bohong pada orang lain, pada publik, pada diri sendiri, pada Tuhannya. Padahal kadang untuk berbohong kita tidak perlu berpikir lagi, entah karena sudah kebiasaan atau bahkan menjadi karakter kita. Kenapa berbohong begitu mudah kita lakukan ya...??? kalau pengalaman saya sih...! berbohong bisa menyelamatkan kita dari segala hal, ketika ada yang mau pinjam uang trus kita nggak mau ngasih...! tinggak bohong aja “Nggak punya.......!” beres..!, masa-masa sekolah dulu, ketika nggak ngerjakan pr, “Sungguh, sudah saya kerjakan tapi buku saya ketinggalan pak...!”, dan banyak lagi, meskipun kadang hukuman tetap ditimpakan, tapi paling tidak ada rasa aman karena punya alasan....!.

Attantion.....! kebiasaan berbohong bisa muncul karena orang tua yang terlalu sering memarahi anaknya, maka biasanya ada kecenderungan anak untuk mudah berbohong, kenapa...? ya biar tidak di marahi orang tuanya, jadi yang sudah punya anak, hati-hati....!